Baca Selengkapnya
Baca Selengkapnya
Yang Rajin Sholat Tetap Miskin, Tapi yang Sering Maksiat & Tidak
Sholat Lebih Kaya, Ini Penjelasannya

Di salah satu postingan FB saya membaca sebuah status yang
agak menggelitik. Yaitu mengenai seorang yang rajin sholat tetapi
tetap miskin, ironisnya yang Sering Maksiat & Tidak Sholat Lebih
Kaya. Apakah Allah salah memberi?
Yang Rajin Sholat Tetap Miskin, Tapi yang Sering Maksiat & Tidak Sholat Lebih Kaya, Ini
Penjelasannya
Kemudian ada yang tekun melakukan wirid atau membaca doa
tertentu bahkan mendawankan Asmaul Husna, misalnya AlWahhab,
Yang Maha memberi rezeki dan mencukupi seluruh
makhlukNya. Pada makna sifat AlWahhab terdapat penekanan
dalam sisi jaminan rezeki, banyak atau sedikit. Allah juga ArRazzaq
(Maha Pemberi Rezeki), yang mengandung maksud bahwa Allah
berulangulang dan banyak sekali memberi rezeki kepada semua
makhlukNya.
Tetapi nyatanya penghidupannya tidak ada perubahannya, tetap
masih dalam kekurangan.
Begitu juga dengan orang yang selalu melaksanakan shalat Dhuha
tetapi hidupnya masih juga belum berkecukupan.
Padahal dia juga
sudah melakukan shalat dhuha berkalikali lengkap dengan doanya
juga.
Bagaimana menyikapi hal ini menurut Islam?
Selama ini kita telah mengartikan makna dari rezeki. Anggapan kita
rezeki itu sematamata berupa kekayaan, perhiasan dan lainlain.
Kadangkadang Allah memberi kekayaan kepada manusia beserta
kesenangannya, akan tetapi Allah tidak memberi taufik dan
hidayahNya. Sebaliknya, terkadang Allah tidak memberi anugerah
kekayaan dunia, akan tetapi menganugerahkan rahmat dan
hidayahNya. Allah menahan rezeki manusia, adakalanya untuk
memberi kesempatan baginya mencari taat, dan
menghindarkannya dari maksiat. atau memberinya kekayaan, tapi
tidak memberinya ketaatan dan keshalehan.
Allah memberi kamu kelapangan agar kamu tidak selalu dalam
kesempitan. Allah memberi kesempitan kepadamu agar kamu tidak
hanyut di waktu lapang. Allah melepaskan kamu dari keduaduanya
agar kamu tidak menggantungkan diri kecuali kepadaNya semata.
Rezeki itu memiliki bermacammacam bentuk. rezeki
kekayaan/materi, rezeki waktu, rezeki kesehatan, rezeki keluarga
yang menyenangkan dan harmonis, rezeki kebebasan, rezeki bakat
pada bidang tertentu, rezeki kepandaian, itu smuanya adalah
bentukbentuk rezeki dalam hidup… dan masih banyak ragam
lainnya yang terlalu luas untuk didefinisikan.
Allah pasti akan memberikan rezeki kepada makhluk yang
memintanya artinya rezeki tidak akan hilang, rezeki hanya akan
berubah bentuk dari satu bentuk ke bentuk lainnya.
Sering Maksiat Tetapi Kaya Raya, Rezeki Lancar dan Sukses ?
Tengok di lingkungan sekitar kita entah itu teman dan saudara saya
yang jarang sholat apalagi zikir dan tanpa amalanamalan tertentu,
bisa kaya dan makmur hidupnya. malah yang sering sholat dan zikir
hidupnya biasabiasa saja.
Jika kamu melihat fenomena semacam itu maka ketahuilah bahwa
Itu Semua Adalah Istidraj, Bisa jadi ada yang mendapatkan
limpahan rezeki namun ia adalah orang yang gemar maksiat. Ia
tempuh jalan kesyirikan –lewat ritual pesugihan misalnya, dan
benar ia cepat kaya.
Ketahuilah bahwa mendapatkan limpahan kekayaan seperti itu
bukanlah suatu tanda kemuliaan, namun itu adalah istidraj.
Istidraj artinya suatu jebakan berupa kelapangan rezeki padahal
yang diberi dalam keadaan terus menerus bermaksiat pada Allah.
Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam bersabda
:
َيا َما ُي ِح ُّب َو ُهَو ُمِقيٌم َعلَى َمَعا ِصْي ِه
َعْبَد ِمَن الُّدنْ
ْي َت َالله َت َعالَى ُي ْع ِطي الْ
َ
ا َرأ
ِذَ
إ
لِ َك ِمن ُه ا ْسِتْد َرا ٌج
َماذَ
نَّ
ِ
َفإ
“Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia
yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan
kepadaNya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj
(jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad
4: 145. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini
hasan dilihat dari jalur lain).
Allah Ta’ala berfirman,
َما
ِ
ُحوا ب
ا َفرِ
ِذَ
ْبَوا َب ُك ِّل َش ْي ٍء َحتَّى إ
َ
ْيهِ ْم أ
ِه َفَت ْحَنا َعلَ
ِ
ِّك ُروا ب
َّما َن ُسوا َما ذُ
َفلَ
ا ُه ْم ُمْبلِ ُسو َن
ِذَ
َفإ
َنا ُه ْم َب ْغَتةً
َخذْ
َ
وتُواأ
ُ
أ
“
Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan
kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintupintu
kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira
dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa
mereka dengan sekonyongkonyong, maka ketika itu mereka
terdiam berputus asa.” (QS. Al An’am: 44)
Dalam Tafsir Al Jalalain (hal. 141) disebutkan, “Ketika mereka
meninggalkan peringatan yang diberikan pada mereka, tidak mau
mengindahkan peringatan tersebut, Allah buka pada mereka segala
pintu nikmat sebagai bentuk istidraj pada mereka.
Sampai mereka berbangga akan hal itu dengan sombongnya.
Kemudian kami siksa mereka dengan tibatiba. Lantas mereka pun
terdiam dari segala kebaikan.”
Syaikh As Sa’di menyatakan, “Ketika mereka melupakan peringatan
Allah yang diberikan pada mereka, maka dibukakanlah berbagi
pintu dunia dan kelezatannya, mereka pun lalai. Sampai mereka
bergembira dengan apa yang diberikan pada mereka, akhirnya
Allah menyiksa mereka dengan tibatiba. Mereka pun berputus asa
dari berbagai kebaikan. Seperti itu lebih berat siksanya. Mereka
terbuai, lalai, dan tenang dengan keadaan dunia mereka. Namun
itu sebenarnya lebih berat hukumannya dan jadi musibah yang
besar.” (Tafsir As Sa’di, hal. 260)
Kelancaran rezeki bukanlah standar sayangnya Allah kepada
seseorang. Boleh jadi kelapangan hidup itu bentuk azab yang tidak
disadari. Untuk apa banyak harta tapi batin merana, ancaman azab
akhirat tidak dipedulikan. Kalaulah standar sayangnya Allah itu
dengan kemewahan hidup dunia, Qarunlah orang yang paling
disayangi Allah. Tapi akhirnya ia binasa ditelan bumi.
Juga sebaliknya, jangan mengira orang yang banyak ujian dan
cobaan dalam hidup tanda ia dimurkai oleh Allah. Boleh jadi itu
adalah musibah untuk menghapuskan dosa dan meninggikan
derajatnya di surga nanti.
Sebagai penutup, hendaknya perlu diingat bahwa kita tidak boleh
melakukan ibadah apapun misalnya shalat Dhuha dengan niat agar
mendapatkan banyak rezeki. Shalat Dhuha tetap diniatkan untuk
beribadah, mengabdi kepadaNya, sesuai anjuran Rasulullah saw.
Doa setelah shalat itulah yang kita niatkan untuk memohon
kelancaran rezeki yang halal, berlimpah dan barakah.
Semoga bermanfaat.
Baca Selengkapnya
Yang Rajin Sholat Tetap Miskin, Tapi yang Sering Maksiat & Tidak Sholat Lebih Kaya, Ini Penjelasannya
4/
5
Oleh
Unknown