Baca Selengkapnya
Baca Selengkapnya
Subhanallah, Begini 6 Akhlak Islam Dalam Memperlakukan Buruh

Peringatan hari buruh sebagai hari libur nasional merupakan salah
satu dari bentuk penghargaan dari pemerintah sejak era presiden
SBY terhadap peran kaum buruh. Di sektor domestik, buruh yang
dulunya disebut sebagai pembantu rumah tangga (PRT) saat ini
pun diganti penyebutannya secara lebih halus menjadi asisten
rumah tangga (ART).
Dalam pandangan Islam, posisi buruh atau pegawai di berbagai
sektor pun amat dihargai. Tidak hanya secara materi, namun
secara fisik dan psikologi, pihak yang banyak membantu
majikannya itu tidak boleh ditekan. Berikut ini ada beberapa point
penghargaan Islam terhadap para pegawai berdasarkan riwayat
hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Pertama, pembantu dipandang sebagaimana saudara majikannya.
Dari Abu Dzar radhiallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam
bersabda: "Saudara kalian adalah budak kalian. Allah jadikan
mereka dibawah kekuasaan kalian." (HR. Bukhari no. 30)
Pernyataan Rasulullah bahwa pembantu sebagaimana saudara
majikan ini bermakna bahwa derajat mereka setara dengan
saudara atau majikannya.
Kedua, majikan dilarang memberikan beban tugas kepada
pegawainya melebihi kemampuan yang dimiliki. Kalaupun hal itu
terpaksa terjadi, maka majikan hendaknya membantu pekerjaan
pegawainya. Masih menurut riwayat sahabat Abu Dzar radhiallahu
anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Janganlah kalian
membebani mereka (budak), dan jika kalian memberikan tugas
kepada mereka, bantulah mereka.
" (HR. Bukhari no. 30)
Ketiga, upah atau gaji bagi para pegawai tidak boleh ditunda, harus
diberikan tepat waktu dan tanpa ada pengurangan sedikit pun,
karena hal itu merupakan bentuk kezaliman.
Dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhu Nabi shallallahu alaihi wa
sallam bersabda: "Berikanlah upah pegawai (buruh), sebelum
kering keringatnya." (HR. Ibn Majah).
Dalam hadis qudsi riwayat Abu Hurairah radhiallahu anhu, Nabi
shallallahu alaihi wa sallam meriwayatkan, bahwa Allah berfirman:
"Ada tiga orang, yang akan menjadi musuhKu pada hari kiamat :
orang yang mempekerjakan seorang buruh, si buruh memenuhi
tugasnya, namun dia tidak memberikan upahnya (yang sesuai).
"
(HR. Bukhari 2227 dan Ibn Majah 2442).
Menjadi musuh Allah merupakan suatu hal yang amat buruk dan
rugi. Bagaimana jadinya bila kita selama ini mengharapkan rahmat
dan maghfirah Allah, namun Allah justru membenci kita ?
naudzubillah min dzalik.
Keempat, ajaran Islam menganjurkan bagi majikan untuk
meringankan beban pegawai dan pembantunya.
Dari Amr bin
Huwairits, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Keringanan
yang kamu berikan kepada budakmu, maka itu menjadi pahala di
timbangan amalmu." (HR. Ibn Hibban dalam shahihnya)
Kelima, Islam memotivasi agar pihak atasan bersikap tawadhu dan
tidak mengambil jarak dengan buruh dan pembantunya. Dari Abu
Hurairah, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Bukan orang
yang sombong, majikan yang makan bersama budaknya, mau
mengendarai himar (kendaraan kelas bawah) di pasar, mau
mengikat kambing dan memerah susunya.
" (HR. Bukhari dalam
Adabul Mufrad 568, Baihaqi dalam Syuabul Iman 7839.
Keenam, ajaran Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wasallam
melarang sikap kasar kepada bawahan. Seorang pemimpin
sekaliber Rasulullah, yang telah menguasai jazirah Arab ketika itu,
tidak pernah main tangan dengan bawahannya. Aisyah menceritakan: "Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah
memukul dengan tangannya sedikit pun, tidak kepada wanita, tidak
pula kepada budak." (HR. Muslim 2328, Abu Daud 4786)
Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga pernah menyaksikan salah
seorang sahabat yang memukul budak lelakinya. Sahabat itu
bernama Abu Mas’ud AlAnshari. Seketika itu, Nabi shallallahu alaihi
wa sallam mengingatkan sahabat itu dari belakang:
"Ketahuilah
wahai Abu Mas’ud, Allah lebih kuasa untuk menghukummu seperti
itu, dari pada kemampuanmu untuk menghukumnya.
"
Ketika Abu Mas’ud menoleh, dia terperanjat karena ternyata
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang berbicara. Spontan
saja, sahabat ini langsung membebaskan budaknya. Nabi
shallallahu alaihi wa sallam memujinya: "Andai engkau tidak
melakukannya, niscaya neraka akan melahapmu.
" (HR. Muslim
1659, Abu Daud 5159, Tumudzi 1948 dan yang lainnya)
Tentu, hanya manusia pengecut yang beraninya bersikap keras
terhadap bawahannya. Sikap keras secara fisik serta tekanantekanan
yang dilakukan kepada bawahan bukanlah tanda
kewibawaan seseorang. Sebaliknya, majikan yang bersikap baik
kepada para pegawainya tentu akan mendapatkan doa kebaikan
dari mereka sehingga rizki akan semakin melimpah dan barakah.
Wallahu a’lam.
Baca Selengkapnya
Subhanallah, Begini 6 Akhlak Islam Dalam Memperlakukan Buruh
4/
5
Oleh
Unknown