Baca Selengkapnya
Baca Selengkapnya
Seorang Ahli Ibadah-pun akan Lebih Buruk dari Ahli Maksiat, Jika
ia Seperti ini.

Bagaimana bisa seorang ahli ibadah lebih buruk dari pada mereka
yang ahli zina, ahli judi, ahli mabuk-mabukan, dan ahli maksiat
lainnya?
Seperti yang dikisahkan, seseorang yang dijuluki Khali’ yaitu
seorang pemuda yang suka berbuat kemaksiatan besar. Pada
suatu waktu ia bertemu dengan seorang ‘abid, yakni seorang yang
taat beribadah dari kaum Bani Israil. Lalu si khali’ berkata, “Aku
adalah seorang pendosa yang suka berbuat kemaksiatan,
sementara orang itu adalah seorang ‘abid, sebaiknya aku duduk
disebelahnya, dan Semoga Allah memberikan rahmatNya
kepadaku dan memaafkan dosaku.
”
Kemudian si khali’ duduk disebelah si ‘abid. “Aku adalah seorang
yang taat beribadah, sementara pria ini adalah seorang yang amat
suka berbuat kemaksiatan, pantaskah aku duduk bersebelahan
dengannya?” gumam si ‘abid. Dan tibatiba si ‘abid memaki serta
menendang si khali’ hingga jatuh tersungkur.
Lalu Allah SWT menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad SAW
mengenai peristiwa ini. “Perintahkanlah kepada kedua orang ini
yaitu ‘abid dan khali’ untuk memperbanyak amal mereka.
Sesungguhnya Aku benarbenar telah mengampuni dosadosa
khali’ dan menghapus semua amal ibadah ‘abid.
”
Dengan demikian semua dosadosa yang pernah diperbuat oleh si
ahli maksiat menjadi terhapuskan karena ia merasa takut kepada
Allah SWT atas semua dosa yang telah dilakukannya, sementara
Allah SWT menghapuskan semua amal ibadah yang telah
dikerjakan oleh si ahli ibadah karena sifatnya yang sombong dan
merasa dirinya lebih mulia dibandingkan si ahli maksiat.
Apa yang sebenarnya membuat kedudukan si alim lebih rendah
daripada si maksiat adalah sikapnya yang begitu menyombongkan
diri dan menganggap mulia dirinya.
Sedangkan seseorang yang suka bermaksiat itu menyadari dan
menimbulkan rasa hina pada dirinya sendiri. Apalagi ahli ibadah
juga menghakimi dan menghujat bahwa orang yang bermaksiat itu
tidak pantas duduk bersandingan dengannya.
Padahal hanya Allahlah yang pantas untuk memberi penghakiman
terhadap orang lain. Hal ini tentunya dapat menjadi pembelajaran
bagi kita semua, Sedikit amal bisa membuat kita memandang
rendah orang lain. Sedikit amal membuat kita menjadi hakim atas
tindakan benarsalahnya orang lain.
Sebuah kisah yang hampir sama juga diceritakan di dalam kitab
Sittuna Qishshah yaitu “kisah ahli ibadah yang masuk neraka dan
ahli maksiat yang masuk surga”.
Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, “Pada zaman Bani Israil
dahulu, hidup dua orang lakilaki yang berbeda karakternya. Yang
satu suka berbuat dosa dan yang lainnya rajin beribadah. Setiap
kali orang yang ahli ibadah ini melihat temannya berbuat dosa, ia
menyarankan untuk berhenti dari perbuatan dosanya.
Suatu kali orang yang ahli ibadah berkata lagi, ‘Berhentilah dari
berbuat dosa.
’ Dia menjawab, ‘Jangan pedulikan aku, terserah Allah
akan memperlakukan aku bagaimana. Memangnya engkau diutus
Allah untuk mengawasi apa yang aku lakukan.’
Lakilaki ahli ibadah itu menimpali, ‘Demi Allah, dosamu tidak akan
diampuni olehNya atau kamu tidak mungkin dimasukkan ke dalam
surga Allah.’
Kemudian Allah mencabut nyawa kedua orang itu dan
mengumpulkan keduanya di hadapan Allah Rabbul’Alamin. Allah
ta’ala berfirman kepada lelaki ahli ibadah, ‘Apakah kamu lebih
mengetahui daripada Aku? Ataukah kamu dapat merubah apa yang
telah berada dalam kekuasaan tanganKu.
’
Kemudian kepada ahli maksiat Allah berfirman, ‘Masuklah kamu ke
dalam surga berkat rahmatKu.’ Sementara kepada ahli ibadah
dikatakan, ‘Masukkan orang ini ke neraka’.”
(HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Mubarak dalam AzZuhd, dan Ibnu
Abi Dunya dalam Husn AzZhan, dan AlBaghawi Syrah AsSunnah)
Kedua cerita di atas sama sama mengajarkan bahwa seseorang
yang mulia dan lebih tinggi derajatnya tidak hanya dilihat dari
banyak atau sedikitnya dosa, tapi juga dilihat implikasi atau dampak
dari amal itu. Jika dia yang banyak amal baiknya menjadi takabur
dan sombong tentunya semua amal itu akan lenyap.
Sedangkan
jika si pendosa merasa bersalah dan berusaha untuk bertobat
maka akan musnahlah seluruh dosanya.
Rasulullah SAW bersabda:
“Jika kalian tidak pernah melakukan dosa, niscaya sesungguhnya
yang paling ditakutkan pada kalian adalah yang jauh lebih dahsyat
yaitu ‘ujub (merasa kagum pada diri sendiri).” (HR. Imam Ahmad)
Seperti yang sudah banyak diceritakan, kesombongan selalu
membawa bahaya dan menghilangkan segala kemuliaan. Bahkan
seorang yang maksiat saja bisa lebih baik dari ahli ibadah apabila
sang ahli ibadah dibutakan dengan kesombongannya. Sedangkan
seorang yang maksiat menyadari begitu rendahnya dia dan
mengakui dosanya.
Wallahu a’lam.
Baca Selengkapnya
Seorang Ahli Ibadah-pun akan Lebih Buruk dari Ahli Maksiat, Jika ia Seperti ini.
4/
5
Oleh
Unknown