Senin, 29 Mei 2017

Gambaran Pengertian Siksa Api Neraka dalam Islam

Baca Selengkapnya

Baca Selengkapnya

Gambaran Pengertian Siksa Api Neraka dalam Islam






Sebagaimana diketahui, elastisitas ilmu pengetahuan meniscayakan improvisasi pemahaman – pemahaman di dalamnya. Sehingga dalam diskursus ilmu – ilmu hadis yang terus menerus berkembang dari waktu ke waktu (baca : dinamis), kemunculan beragam pemikiran yang terkadang nyeleneh bukanlah hal yang tak seharusnya. 

Ini juga terjadi dalam rangkaian pemahaman muslimin tentang hadis hadis eskatologi. Banyaknya informasi Nabi SAW tentang sifat hal – hal ghoib yang kesemuanya tak bisa disurvey, namun harus (dan memang seharusnya) diimani oleh kaum mukminin meniscayakan perlunya eksplorasi mendalam tentang sifat dan hakikat benda – benda maya tersebut dalam perspektif hadis nabi SAW. Tujuannya, membedakan antara kabar yang bersumber dari riwayat yang jelas dan yang merupakan sempalan dari interpretasi para interpretator. Untuk itulah tulisan ini dibuat, Selain untuk memenuhi tugas mata kuliah “kajian kontemporer atas hadis” ampuan Dr. Agung Danarto, M.Ag, juga demi memenuhi kehausan penulis akan samudra keilmuan sunnah nabawiyyah.

Gambaran Siksa Api Neraka dalam Islam

Dalam penyusunan artikel tentang neraka ini, penulis membatasi kajian pada deskripsi sifat dan hal ihwal neraka serta beberapa hal penting lain yang berkaitan dengannya. Di saat menemukan sebuah hadis£, penulis berusaha (sesuai kadar kemampuannya) untuk meneliti otentisitas hadis dengan melakukan takhrij, untuk selanjutnya dirujukkan makna teks tersebut dengan beberapa pendapat ulama’ terdahulu, dan jika memungkinkan, akan disimpulkan sebuah konklusi dari peneliti dengan bingkai ke-kini-annya. Metodologi ini disamping untuk mempermudah penelitian, juga untuk memfokuskan pembahasan sehingga tak terlalu melebar. Adapun sumber utama yang digunakan adalah CD ROM. Mausuah al-Hadits al-Syarif, (Global Islamic Software, 1997). 

Gambaran Hakikat neraka 

Dalam bahasa arab, dikenal istilah al nar yang mempunyai makna dasar “elemen ringan yang (bisa) membakar”[2]. Akar katanya adalah fi’il mujarrod nawaro. Ia memiliki satu rumpun kata dengan nar yang berarti api, dan nur yang berarti cahaya atau sinar. ** Inilah (mungkin) sebab dari penggambaran identik neraka dengan api. 

Secara istilah, banyak versi tentang definisi neraka, Muhammad al syafahy menggambarkannya sebagai sebuah penjara di akhirat, didalamnya terdapat siksa – siksa dan berbagai macam bencana yang tak tergambarkan (dahsyatnya) pada akal manusia... dan tak memiliki sebesar atompun kesenangan.[3]

Al ghazaly mendiskripsikan neraka sebagai tempat dengan jalan – jalan yang gelap dan bayang – bayang kemalangan. Di sana manusia dipenjara dan selamanya api dinyalakan. Minuman mereka adalah api yang mendidih. Tempat tinggal mereka adalah api yang bergolak... di depan mereka hanya terbayang kehancuran tanpa jalan keluar.[4]

Pastinya, Tak ada yang tahu bagaimana bentuk sebenarnya neraka. Beragam penggambaran (bahkan oleh kita sendiri) pastilah berdasarkan dengan informasi yang pernah didapat, dan sesuai dengan pengalaman – pengalaman yang pernah dilakukan. Tapi satu hal yang sama, jika ditanya tentang neraka, tak kan ada yang mengingkari bahwa ia adalah tempat pembalasan dan siksa bagi orang – orang yang ketika di dunianya tidak taat kepada tuhannya. 

Proses penciptaan Neraka 

Dalam memahami bagaimana neraka diciptakan, beberapa ulama’[5] bersandarkan pada sebuah riwayat dalam sunan al tirmidzy. Matan beserta sanad hadis tersebut adalah sebagai berikut : 


حَدَّثَنَا عَبَّاسٌ الدُّورِيُّ الْبَغْدَادِيُّ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا شَرِيكٌ عَنْ عَاصِمٍ هُوَ ابْنُ بَهْدَلَةَ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أُوقِدَ عَلَى النَّارِ أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى احْمَرَّتْ ثُمَّ أُوقِدَ عَلَيْهَا أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى ابْيَضَّتْ ثُمَّ أُوقِدَ عَلَيْهَا أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى اسْوَدَّتْ فَهِيَ سَوْدَاءُ مُظْلِمَةٌ[6]

“Api neraka dipanaskan selama seribu tahun, sehingga ia me-merah, kemudian seribu tahun lagi sampai ia me-mutih, lalu seratus tahun lagi, sampai meng-hitam. Karenanya api neraka itu hitam kelam” 

Keterangan al tirmidzi mengenai “nilai” hadis tersebut, menunjukkan bahwa dari sekian riwayat yang serupa matannya dengan hadis ini, hanya jalur transmisi inilah (yahya bin abi bukair-syarik-‘ashim bin bahdlah-abu sholih-abu huroiroh), yang tersambung sampai Nabi SAW. Sedangkan lainnya, hanya merupakan hadis – hadis yang mauquf. 

Jalur ini juga dapat ditemukan dalam sunan ibn majah tetapi dengan redaksi matan yang sedikit berbeda : 

حَدَّثَنَا الْعَبَّاسُ بْنُ مُحَمَّدٍ الدُّورِيُّ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا شَرِيكٌ عَنْ عَاصِمٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أُوقِدَتْ النَّارُ أَلْفَ سَنَةٍ فَابْيَضَّتْ ثُمَّ أُوقِدَتْ أَلْفَ سَنَةٍ فَاحْمَرَّتْ ثُمَّ أُوقِدَتْ أَلْفَ سَنَةٍ فَاسْوَدَّتْ فَهِيَ سَوْدَاءُ كَاللَّيْلِ الْمُظْلِمِ

Adapun kwalitas rawinya, adalah tsiqot yang terpercaya kecuali ‘ashim bin bahdlah yang dinilai oleh Muhammad bin sa’ad dan beberapa ulama’ jarh sebagai tsiqot yang sering melakukan salah. Karenanya, hadis ini termasuk kategori hadis ‘aziz hasan. 

Pengarang kitab Tuhfatul Afwadzi menyebutkan : Neraka itu berlapis - lapis, dan yang dipanasi adalah kesemuanya, di mana satu lapisan dipanasi di bawah lapisan yang lain, dan seterusnya. Pemakaian wazn “if’alla” dalam penyebutan perubahan warna neraka menunjukkan betapa sangat panasnya ia (lil mubalaghoh). Sedang berubahnya api itu hingga menjadi hitam sebagaimana malam, mengandung makna tahdzir, jangan sampai umat Islam melakukan pekerjaan yang menuju ke arah yang gelap.[7]

Jika sampai saat sekarang, kita baru bisa menemukan api biru sebagai api terpanas, maka entah perlu ribuan atau bahkan jutaan kali lipat usahakah, untuk menghasilkan api yang warnanya seperti tertulis dalam hadis tersebut. 

Gambaran Panasnya Siksa Api Neraka 

Seberapa detail panasnya api neraka itu, jika diserupakan dengan api dunia yang biasa diketahui, adalah sebagaimana teriwayatkan : 

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي أُوَيْسٍ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَارُكُمْ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ نَارِ جَهَنَّمَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ كَانَتْ لَكَافِيَةً قَالَ فُضِّلَتْ عَلَيْهِنَّ بِتِسْعَةٍ وَسِتِّينَ جُزْءًا كُلُّهُنَّ مِثْلُ حَرِّهَا[8]

”Apimu (api dunia yang biasaya kau jumpai) hanyalah satu bagian dari tujuh puluh bagian api jahannam, seseorang bertanya : bagaimana jika seluruhnya ?, nabi menjawab : tambahlah 69 bagian yang masing – masing bagian sama panasnya” 

Namun, dalam riwayat shahih lain, imam Ahmad menyebutkan sebuah hadis gharib, bahwa perbandingan api dunia dengan api neraka adalah 1 : 100 dan bukan 1 : 70. 

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ هَذِهِ النَّارُ جُزْءٌ مِنْ مِائَةِ جُزْءٍ مِنْ جَهَنَّمَ[9]

Mengenai dua perbedaan mencolok ini, Ibnu Hajar berkomentar : ”memahami dua hadis ini, kita harus menyatakan bahwa maksud utama dari hadis adalah untuk menyatakan ”banyak” tanpa harus dibatasi dengan jumlah riil (70 atau 100)”[10]

Sebuah Hadis terkenal lain yang merujuk pada makna ”sangat panasnya api neraka” dan yang maknanya sering dijadikan rujukan adalah yang diriwayatkan oleh ibn majah : 

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي وَيَعْلَى قَالَا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ أَبِي خَالِدٍ عَنْ نُفَيْعٍ أَبِي دَاوُدَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ نَارَكُمْ هَذِهِ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ نَارِ جَهَنَّمَ وَلَوْلَا أَنَّهَا أُطْفِئَتْ بِالْمَاءِ مَرَّتَيْنِ مَا انْتَفَعْتُمْ بِهَا وَإِنَّهَا لَتَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ لَا يُعِيدَهَا فِيهَا[11]

Selain menyebut nash matan seperti hadis sebelumnya, Ibn Majah menambah kalimat “ dan jika api itu dipadamkan dengan air dua kali maka, sungguh (pekerjaan itu) tak berguna sama sekali (dan api itu akn tetap menyala), sesungguhnya api itu memohon kepada Allah agar agar Ia tak bisa dipadamkan olehnya.” 

Hanya saja, ternyata riwayat ini tak bisa dipegangi sanadnya, ia adalah hadis ‘aziz dho’if yang hanya diriwayatkan oleh imam Ibn majah. 

Sesungguhnya membayangkan tujuh puluh (atau seratus) kali lipat rasa dari api yang pernah kita temui, sama dengan mengatakan :”jika hanya dengan satu (kali) api, rumah, kampung, dan hutan bias terbakar, maka tak akan sesuatu di dunia yang tak kan bisa bertahan dari api yang panasnya seratus kali lipat dari api – api dunia.” Barangkali inilah makna yang lebih dalam dari dzahir hadis tersebut. 

Klasifikasi neraka (tingkatan – tingkatan dan pintu – pintu Neraka)

Topik lainnya, berkenaan dengan hal – ihwal neraka adalah bahwa ia tak hanya memiliki satu pintu. makna ini secara eksplisit tersirat dalam banyak hadis shahih yang mengabarkan tertutupnya pintu – pintu neraka ketika bulan Ramadhan.[12]

Meskipun harus diakui ada beberapa ulama’ hadis yang menganggap hadis ini sebagai kiasan atas terbelenggunya nafsu manusia sehingga terjauhkan dari hal – hal yang mengarah pada neraka, namun ada juga yang memilih makna implisit dari dzahir teks hadis tersebut. An nawawy bahkan menganggap dua kemungkinan makna ini bisa digunakan dalam penafsiran.[13]

Al qur’an menjelaskan : 

وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوْعِدُهُمْ أَجْمَعِينَ , لَهَا سَبْعَةُ أَبْوَابٍ لِكُلِّ بَابٍ مِنْهُمْ جُزْءٌ مَقْسُومٌ (الحجر : 44)

”Jahannam itu memiliki tujuh pintu. Tiap – tiap pintu (telah ditetapkan untuk golongan yang tertentu” 

Ke-tujuh pintu tersebut, disebut oleh Imam Ali bin Abi Tholib sebagai jahannam (yang paling bawah), di atasnya ada ladza, lalu hathomah, saqar, jahim, sa’ir, dan hawiyah.[14] Pernyataan ini, jika dipadankan dengan sebuah atsar dari Ali (sebagaimana yang dikutip oleh al thobary) : 

”حدثني يعقوب، قال: ثنا ابن علية، عن أبي هارون الغنوي، عن حطان بن عبد الله، قال: قال عليّ: تدرون كيف أبواب النار؟ قلنا: نعم كنحو هذه الأبواب ، فقال: لا ولكنها هكذا ، فوصف أبو هارون أطباقا بعضها فوق بعض”

Menghasilkan pemahaman bahwa neraka bertingkat tujuh tingkatan, dan masing – masing tingkatan memiliki sebuah pintu.[15]

Keadaan manusia di dalam Neraka 

Sebagai sebuah usaha penggambaran tentang keadaan manusia di dalam neraka, informasi – informasi seputarnya akan berkisar antara sebab dan proses ”perolehan siksa”, ”kekejaman para penjaganya”, dan atau ”kondisi – kondisi sangat tak bersahabat” di dalamnya. Ini berhubungan erat dengan, telah ditetapkannya neraka sebagai tempat ”pembagian siksa” sebagai balasan atas amal – amal jelek di dunia. Berikut penulis ketengahkan beberapa hadis tentang hal tersebut. Di bawah ini, adalah sebuah deskripsi, kenapa seorang wanita disiksa di dalam neraka : 

“Ada seorang wanita yang di’adzab karena seekor kucing yang ia belenggu sampai ia mati, lalu tempat (wanita)itu dipenuhi dengan api. Ketika dalam belenggu itu, kucing itu tak diberinya makan dan minum, ia juga tak membiarkan kucing itu makan dari serangga bumi” 

Makna yang lebih jelas, bisa didapatkan dalam syarah ibn hajar : “Wanita dalam hadis tersebut, dalam sebuah riwayat ia disebut Himriyyah, dan ada yang mensifatinya sebagai salah satu perempuan dari Bani Israil[17]…makna fi hirroh : sebab ia suka menganiaya kucing dengan menarik – nariknya, sedang min khosyasy al ardh : serangga – serangga bumi seperti tikus dan sebagainya. Dzahir hadis ini menunjukkan ada seorang wanita dari Bani Israil yang disiksa (di neraka) dikarenakan ia pernah menyiksa kucing dalam kerangkeng. Banyak versi pemahaman tentang apakah wanita itu seorang kafir ataukah muslim, Imam nawawy berpendapat bahwa dia adalah seorang muslimah yang masuk neraka karena perbuatan ma’shiyahnya tersebut.[18]” 

Contoh kedua tentang bagaimana wujud siksa di neraka, dapat ditemukan dalam hadis semisal : 

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا إِسْحَاقَ قَالَ سَمِعْتُ النُّعْمَانَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَرَجُلٌ تُوضَعُ فِي أَخْمَصِ قَدَمَيْهِ جَمْرَةٌ يَغْلِي مِنْهَا دِمَاغُهُ[19]

“Sesungguhnya penghuni neraka yang paling rendah ‘adzabnya adalah seseorang yang diletakkan pada setiap dari lima jari di kedua kakinya bara api yang membakar (hingga) otaknya” 

Kehebohan siksa di neraka, juga dapat dibaca dari perumpamaan dalam al qur’an : 

إِذَا رَأَتْهُمْ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ سَمِعُوا لَهَا تَغَيُّظًا وَزَفِيرًا (الفرقان : 12)

“Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara yang menyala – nyala”[20]

Bahkan sebelum orang – orang dimasukkan ke dalamnya pun, neraka telah menyambutnya dengan salam “panas” (tidak hangat), ayat ini seakan ingin mengatakan “kalau belum masuk saja telah terasa panasnya, bagaimana panas yang terasa jika kita benar – benar di dalamnya“ 

Adapun ilustrasi tentang betapa tidak bersahabatnya kondisi neraka, dapat ditemukan dalam hadis : 

“pada hari kiamat, seseorang akan dimasukkan ke dalam neraka, lalu keluar usus – usunya, usus itu kemudian berputar – putar sebagaimana keledai yang berguling dan berputar, kemudian para penghuni neraka berkumpul dan mereka bertanya : hai… ada apa denganmu, bukankah kau dulu menyeru kami pada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar ?, ia menjawab : aku menyeru yang ma’ruf dan aku tak melaksanakannya, (pun pula) aku mencegah manusia berbuat munkar namun aku sendiri melaksanakannya.” 

Begitulah, keadaan manusia – manusia di dalamnya. Entahlah, barangkali jika kumpulan – kumpulan cerita tentang neraka dan siksa serta keadaan di dalamnya dibukukan, ia akan sangat lebih mengerikan dari buku ber-genre thriller horor manapun. 

Syafa’at bagi Manusia di neraka, Adakah?

Persoalan pelik, yang biasanya saling dipertanyakan antara ahli kalam, adalah bagaimana kelanjutan nasib dari pra penghuni neraka tersebut. Secara garis besar penulis membagi pendapat – pendapat yang beredar menjadi dua kelompok besar, yang mempercayai adanya syafa’at dari nabi Muhammad SAW, dan yang tidak. Bermuara dari hadis yang sama : 


“… … Pada hari kiamat, orang – orang berbondong bondong mendatangi adam, dan berkata : mintakan syafa’at pada Allah untuk kami, Adam menjawab : aku tak berhak, cobalah minta ke Ibrahim dialah kholilullah, lalu mereka mendatangi Ibrahim, Ia menjawab : aku (pun) tak berhak, pergilah kalian ke Musa, ia adalah kalimullah, Kata Musa : aku (juga) tak berhak, menghadaplah ke Isa, dialah ruh Allah dan kalimahnya. Isa berkata : aku tak berhak, datangilah Muhammad SAW. Kemudian mereka mendatangiku, lalu (akan )ku jawab : aku berhak (atas apa yang kalian minta). Kemudian aku meminta izin kepada Allah dan Dia mengizinkanku, Ia mengilhamkan puja-puji kepadaku, aku memujiNya dengan itu, lalu aku bersujud hingga Allah berkata : wahai Muhammad, angkat kepalamu, katakanlah (permintaanmu) maka (permintaan itu) akan Kudengarkan, mintalah, dan kau akan diberi (dikabulkan pen.), berilah syafa’at, maka akan Ku kabulkan. Aku (Muhammad) lalu berkata : Tuhan, umatku, umatku, Allah menjawab : pergilah, dan keluarkan dari neraka (umatmu) yang di dalam hatinya terdapat iman seberat biji dzarroh, lalu aku pergi dan mengeluarkan mereka. Setelah itu aku kembali, dan memujiNya (lagi), lalu (kembali) bersujud hingga Allah berkata : wahai Muhammad, angkat kepalamu, katakanlah (permintaanmu) maka (permintaan itu) akan Kudengarkan, mintalah, dan kau akan diberi (dikabulkan pen.), berilah syafa’at, maka akan Ku kabulkan. Aku (Muhammad) lalu berkata : Tuhan, umatku, umatku, Allah menjawab :pergilah dan keluarkan mereka yang di hatinya ada setitik saja dari berat biji dzarroh, lalu aku mengeluakan mereka…(Abu sa’id) menambah) . Setelah itu aku kembali,(untuk kesekian kalinya) dan memujiNya (lagi), lalu (kembali) bersujud hingga Allah berkata : wahai Muhammad, angkat kepalamu, katakanlah (permintaanmu) maka (permintaan itu) akan Kudengarkan, mintalah, dan kau akan diberi (dikabulkan pen.), berilah syafa’at, maka akan Ku kabulkan. Aku (Muhammad) lalu berkata : Tuhan,izinkan aku mengeluarkan mereka yang pernah mengucapkan la ilaha illallah, Tuhan menjawab : demi kemuliaan dan keagunganKu, keluarkanlah mereka yang pernah mengucapkan la ilaha illalloh.” 

Sebagian ulama’ (seperti al ghazaly) meyakininya sebagai dalil adanya syafa’at bagi kaum Muhammad SAW. Di mana pada saatnya, setelah mendapatkan balasannya, Muhammad akan menggiring umatnya pergi dari neraka. Sedangkan umat nabi lain, Tak bisa memperoleh syafa’at. Inilah kekhususan yang diberikanNya kepada Muhammad SAW.[23]

Sedang sebagian yang lain (di antaranya fazl el rohman), menganggap bahwa makna terpenting hadis ini adalah penanaman teologis atas nabi Muhammad SAW. Karen jika menganggap syafa’at ada, maka akan berimplikasi pada pengendoran keketatan nilai moral. Dengan meyakininya, seseorang dapat memodifikasi moralitas keagamaannya sesuai dengan kehendak yang ia kehendaki.[24]

Gambaran Api Neraka dalam Islam

Mencoba bersikap moderat, penulis mengatakan :”Meyakini syafa’at sebagai bagian dari kepercayaan aas kemuliaan nabi Muhammad bukanlah hal yang terlarang. Keyakinan ini harusnya diejawantahkan dalam sebuah upaya positif untuk senantiasa ber-ittiba’ dengan rambu – rambu Muhammad sebagai Rasul Allah. Hanya, jika pada akhirnya, timbul kemerosotan moral keagamaan sebagaimana kekhawatiran beberapa cendekia di atas. Seseorang seharusnya berpikir seribu kali meskipun hanya untuk ”berniat mencicipi bau amis neraka” 

Beberapa hasil yang verifikasi hadis tentang Neraka

Sebagaimana yang penulis paparkan pada awalnya, bahwa tujuan pembuatan artikel ini diantaranya adalah untuk menyaring informasi – informasi tentang neraka sehingga tidak bercampur antara yang berasal dari hadis dan yang bukan, dalam bab ini penulis berinisiatif untuk memaparkan hasil penelitian sederhana dari CD Rom Mausu’ah al kutub al tis’ah. 

Sebuah hadis yang telah masyhur menyatakan ”jika sepotong pakaian dari pakaian – pakaian para ahli neraka dipajang antara langit dan bumi, pastilah binasa para penghuni bumi karena panas serta baunya” 

"لو أن سربلا نت سرابيل أهل النار علق بين السماء و الأرض لمات أهل الأرض من رائحته ووهجه"

Sayangnya, dengan mencocokkan (hampir) semua kata dalam hadis tersebut, penulis tidak menemukannya dalam al kutub al tis’ah. 

Begitu juga ketika mencari lafal zabaniyyah, untuk mencari informasi tentang bagaimana kekejaman malaikat penjaga neraka. Penulis hanya menemukan delapan buah hadis. Satu hadis bercerita tentang ifrit, dan satu lagi tentang tafsir firman Allah : sanad’u al zabaniyyah. 

Baca Selengkapnya

Related Posts

Gambaran Pengertian Siksa Api Neraka dalam Islam
4/ 5
Oleh